Senin, 25 April 2016
Percakapan yang tak terduga
Hari itu, salah satu temanku ada yang berulang tahun dan temanku tersebut mengajak kami makan di sebuah café yang ada disudut kota Jogja untuk merayakan ulang tahunnya.
Percakapan ini dimulai pada saat temanku menjemput salah satu teman ku yang lainnya di tempat kos mereka, maklum aku dan ketiga teman ku harus bergantian menuju kesana dengan 1 motor bergantian dan berboncengan untuk mengirit ongkos. Hehehe…
Sembari menunggu temanku, aku berinisiatif untuk menuggu di “markas” yang aku yakini dimiliki oleh tukang parkir café tersebut. Singkat cerita kami mengawali percakapan dengan hangat, menghangatkan cuaca yang saat itu sedang gerimis.
Aku lupa menanyakan namanya , namun umurnya sekitar 30 tahunan.
Aku sempat bingung kenapa banyak orang papua di daerah Jogja, dan aku menanyakan hal tersebut kepadanya. Pertanyaanku pun dijawab olehnya. Ternyata keberadaan orang papua ini sudah cukup lama, mereka di biayain oleh pemerintah daerah mereka untuk kuliah di Yogyakarta, Wow. Pikirku, ternyata papua begitu pedulinya kepada benih benih pemuda penerus mereka,
Namun keadaan itu berbeda pada jaman sekarang, Mahasiswa yang di beri beasiswa pada jaman dahulu memang yang betul betul berkeinginan untuk belajar, ujarnya . Yang sekarang banyak yang buat rusuh.
aku hanya tersenyum kecil, karena aku juga pernah mendengar keluhan itu..
Kemudian mas mas tukang parkir tersebut menuturkan lagi bahwasannya di jogja ini semua pelajar berkumpul, dari sabang sampai merauke ada. Bukan hanya mahasiswa dari papua. Makanya gak heran jogja disebut kota pelajar.
Berarti Indonesia makin banyak orang pinter ya mas ?? sambungnya”
di Indonesia orang pinter banyak mas, orang jujur yang sedikit, pintaku.
aku pun tertawa kecil….
Kami pun mengganti topik pembicaraan.
Kehidupan yang sulit saat ini membuat dia mengeluh kepadaku.
entah apa yang terpikirkan olehnya sehingga mengeluarkan uneg uneg kepadaku saat itu.
Kemudian dia membandingkan kehidupan pada saat rezim Soeharto memimpin Indonesia.
Dahulu itu rakyat kecil itu biarpun berpenghasilan pas pasan tapi kami sejahtera mas.
bensin masih berapa ? minyak lampu berapa ? beras berapa ? Murah.
sekarang 50 ribu ? buat satu hari habis mas. Saya gak perduli banyak yang beranggapan negatif kepada pak soeharto. Yang penting rakyat sejahtera.
Kita ini dulu swasembada beras. Ehh sekarang kok kita minta beras ke luar ya ?
lihat aja kejahatan jaman sekarang tinggi mas. Itu karena apa ?
“KARENA URUSAN PERUT”.
Keadaan lapar memaksa sebagian dari saudara kita berbuat kriminal untuk makan “
mereka terpaksa !” ujarnya
Aku mengerti keadaan emosional saat itu, .
percakapan menjadi senyap dan tak lama kemudian teman teman ku juga udah sampai di cafe tersebut
kami pun berpisah .
Diberdayakan oleh Blogger.
Newsletter
Subscribe Our Newsletter
Enter your email address below to subscribe to our newsletter.